Simposium Nasional AGSI Tegaskan Sejarah Sebagai Keterampilan Berpikir – Simposium Nasional Pengajaran Sejarah yang digelar Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) menghasilkan rekomendasi dan anggapan mutlak bagi pertumbuhan pembelajaran histori di Indonesia. Salah satunya adalah histori tidak sekadar materi hafalan akan era lalu tapi sebagai keterampilan berpikir.

Simposium Nasional AGSI Tegaskan Sejarah Sebagai Keterampilan Berpikir

Simposium Nasional AGSI Tegaskan Sejarah Sebagai Keterampilan Berpikir

Symposium yang digelar luring dan daring (12/12) ini mengangkat tema Sejarah Pemikiran Kritis Untuk Merawat Kebhinekaan. 1700 peserta ada di symposium ini. Secara tertentu Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid pun mengakses symposium ini.

Turut ada termasuk para pakar histori seperti Said Hamid Hasan (Guru Besar Pendidikan Sejarah), Anhar Gonggong (Sejarawan), Ari Sapto (Universitas Malang), dan Agus Suprijono (Universitas Negeri Surabaya).

Presiden AGSI Sumardiansyah Perdana Kusuma membacakan pandangan para pakar dan guru histori yang menghasilkan anggapan dan rekomendasi penting. Sumardiansyah mengatakan, symposium ini menyimpulkan histori adalah imajinasi kebangsaan yang dibangun dari bacaan terhadap era lalu.

’Selain itu histori termasuk tampil sebagai referensi dikehidupan kekinian sekaligus sebagai bahan proyeksi untuk berlangsung menuju era depan,” katanya melalui siaran pers yang diterima

Dia melanjutkan, pemahaman dan kesadaran berkenaan keindonesiaan perlu diketahui oleh segenap bangsa Indonesia. Generasi muda pun, ujarnya, jangan hingga amnesia akan sejarah. Bahkan lupa dari mana dirinya berasal, terkikis jati diri sehingga gagal menjadi manusia yang berkarakter dan berbudaya.

Dia melanjutkan, secara progresif pembelajaran histori perlu sanggup mengkontekstualisasikan berbagai peristiwa yang berlangsung dimasa lalu bersama dengan berbagai peristiwa yang dialami sekarang.

Untuk kita sanggup saling merenungi, mengevaluasi, membandingkan, atau menyita keputusan, sekaligus sebagai orientasi untuk kehidupan era depan yang lebih baik,” terangnya.

Kesimpulan berikutnya, urai Sumardiansyah, yaitu histori bukanlah cuman hafalan atas fakta era lalu, melainkan sebagai keterampilan berpikir.