Sejarah Konflik Australia dan Timor Leste – Lebih dari 70% bagian permukaan bumi merupakan wilayah perairan, perihal ini membuktikan hanya sedikit wilayah daratan yang bisa dijadikan area tinggal manusia. Indonesia sendiri terdiri dari ribuan pulau dan dikelilingi wilayah perairan laut. Laut punyai berbagai macam potensi berkaitan bersama sumber kekuatan alam.

Sejarah Konflik Australia dan Timor Leste

sejarah-konflik-australia-dan-timor-leste

Sumber kekuatan alam yang dimaksud tidak hanya berupa hayati dan nabati (ikan dan tumbuhan laut), tetapi juga pula diantaranya adalah bahan tambang. Laut Arafura atau Laut Timor adalah wilayah perairan yang dikelilingi oleh Pulau Papua di sebelah timurnya, Australia sebelah selatannya, Australia dan Laut Timor sebelah baratnya (Sitohang, 2016:121).

Lebih dari 70% bagian permukaan bumi merupakan wilayah perairan, perihal ini membuktikan hanya sedikit wilayah daratan yang bisa dijadikan area tinggal manusia. Indonesia sendiri terdiri dari ribuan pulau dan dikelilingi wilayah perairan laut. Laut punyai berbagai macam potensi berkaitan bersama sumber kekuatan alam.

Sumber kekuatan alam yang dimaksud tidak hanya berupa hayati dan nabati (ikan dan tumbuhan laut), tetapi juga pula diantaranya adalah bahan tambang. Laut Arafura atau Laut Timor adalah wilayah perairan yang dikelilingi oleh Pulau Papua di sebelah timurnya, Australia sebelah selatannya, Australia dan Laut Timor sebelah baratnya (Sitohang, 2016:121).

Celah timor merupakan istilah dalam penyebutan kawasan perairan pada pulau Timor, Indonesia dan Australia. Laut timor kaya akan bahan tambang (Sitohang, 2016:122). Cadangan minyak dan gas bumi dalam kuantitas memadai besar terkandung di basic perairan Laut Timor.

Potensi inilah yang lantas jadi alasan munculnya konflik. Berbagai pihak dambakan mengakui bahwa di wilayah berikut (Celah Timor) merupakan bagian dari wilayah ZEE miliknya. Indonesia, Australia dan Timor Leste tiap-tiap punyai persepsi dalam melihat persoalan perbatasan wilayah laut.

Potensi yang terkandung di wilayah perairan ini bisa dibilang memadai tinggi dikarenakan lokasi, fungsi, kekayaan alam yang dikandungnya, sosial budaya kehidupan penduduk bahari, dan disempurnakan urutan laut kepulauan sebagai lalu lintas pelayaran internasional (ALKI). (Sitohang, 2016:121).

Celah Timor merupakan salah satu dari enam kawasan yang punyai cadangan minyak tergolong besar tak hanya Timor Leste wilaya tengah, Venezuela, México, Argentina dan Madagaskar. Kemudian menurut penelitian seismik, dasar
laut Timor Gap atau Celah Timor diperkirakan memiliki kandungan cadangan minyak sekitar 5 miliar barel atau merupakan salah satu ladang minyak terbesar dari 25 ladang minyak terbesar di dunia.

Di samping itu, Celah Timor juga memiliki kandungan endapan gas alam sekitar 5.000 miliar kaki kubik. Potensi kandungan minyak mentah atau petroleum diperkirakan sekurang-kurangnya mencapai 5,081 miliar barel dan juga salah satu dari 23 lapangan minyak terbesar di dunia. Angka 5 miliar barel minyak mentah ini hanya di wilayah celah timor belum di semua laut timor yang diperkirakan potensinya lebih dari 10 miliar barel minyak mentah (Sumber: information about Petroleum Industry).

Batas laut berdasarkan kesepakatan pada Indonesia Australia tahun 1972 membagi Laut Timor jadi tiga wilayah batas basic laut. Wilayah A merupakan area kerja sama, wilayah B dimiliki oleh Australia, sedang Wilayah C dimiliki Indonesia (sebelum Timor Timur jadi Timor Leste). Setelah kemerdekaan Timor Leste diraih, kepemilikan wilayah C berubah jadi milik negara Timor Leste.

Melihat dari jejak historis, ada kepentingan ekonomi perebutan wilayah perairan Timor ini yang tidak lain dikarenakan potensi alam dan terasa muncul disaat ada peralihan kepentingan Australia. Kestabilan wilayah kawasan Asia memicu fokus Australia pada Timor Leste beralih jadi kepentingan ekonomi sesudah ada isu ladang minyak yang punya nilai miliaran dolar Amerika Serikat yang terkandung di Laut Timor atau Celah Timor. (Johan, 2015).

Perjanjian diadakan untuk mendapatkan kesepakatan tentang pengaturan jatah eksplorasi ladang minyak di Laut Timor, salah satunya adalah JPDA (Joint Petroleum Development Area).

Perjanjian berikut merupakan Perjanjian Laut Timor mengatur kerangka kerja dari zona pengembangan minyak bersama yang meliputi pengaturan dalam perihal keuangan dan administratif, jatah keuntungan atas kekayaan alam berikut dan mengimbuhkan kepastian kepada para investor yang sudah menggerakkan usahanya di Laut Timor (International law in news, 2006: 441).

Pengelolaan minyak di terlepas laut Timor beberapa besar dikuasai oleh perusahaan asal Australia, walaupun tersedia pula perusahaan dari luar tetapi operasi penuh dikuasai perusahaan Woodside Australian Energy. Tidak bisa dipungkiri,
kepentingan Australia di wilayah perairan berikut dilatarbelakangi motif ekonomi khususnya eksplorasi pertambangan minyak dan gas.

Pada 12 Januari 2006 Australia-Timor Leste di tandatangani perjanjian CMATS (Treaty on Certain Maritime Arrangements in the Timor Sea) dan terasa berlaku pada 23 Februari 2007. Perjanjian ini dirancang untuk pengembangan Greater Sunrise dan untuk menyediakan jatah yang setara dari pendapatan yang tersedia di Celah Timor. Selain itu di dalam perjanjian ini juga disepakati bahwa kedua negara tidak akan mengkaji klaim atas Celah Timor selama 50 tahun ke depan.

Australia juga melakukan pelanggaran hukum lainnya pada Timor Leste pada saat Australian Secret Intelligence Organization (ASIO) menggeledah dan mengambil alih secara paksa dokumen-dokumen perlu berkaitan persoalan mengenai
celah timor di salah satu kantor pengacara Timor Leste di Canberra sebelum saat pertemuan arbitrase dibentuk oleh pengadilan internasional. Permasalahan ini dibawa ke ICJ (International Court of Justice pada tanggal 17 Desember 2013.

Kemudian ICJ mengakses persidangan di forum dengar pendapat tanggal 28 Juli 2014. Namun perihal ini juga gagal dijalankan dan mengalami penundaan. Pada tanggal 2 Juni 2015 Australia mengembalikan dokumen yang dirampasnya melalui ICJ kepada Timor Leste.

Setelah itu kedua negara mengadakan perundingan kembali tentang batas-batas maritim bersama pertolongan Permanent Court of Arbritation (PCA). Proses rekonsiliasi berjalan sampai tahun 2017. Akhirnya pada tanggal 30 Agustus 2017 Timor Leste dan Australia mencapai kesepakatan tentang batas laut yang jadi sengketa lama tersebut.

Kesepakatan ini diratifikasi pada Oktober 2017 di Den Haag (Dalimunthe, 2018:71) . Hasilnya ditetapkan bahwa terkandung pengaturan bagi hasil pada Timor Leste dan Australia dalam pemakaian ladang gas Greater Sunrise.

Dalimunthe, E. S. 2018. Upaya Timor Leste untuk Mendapatkan Sumber Daya Hidrokarbon di Celah Timor pada Australia. Skripsi FISIP UIN Syarif Hidayatullah. Faktual dan Kontroversial. Jakarta Selatan : Wahyu Media
Permasalahan Minyak dan Gas Bumi Timor Leste – Australia. Indonesian Journal of International Law. 4 (2) 440-441. Dari:
https://heinonline.org/HOL/LandingPage?handle=hein.journals/indjil4&div=28&id=&page=
Sitohang, J. 2016. Masalah Perbatasan Wilayah Laut Indonesia di Laut Arafura dan Laut Timor. Jurnal penelitian politik. 119-132. Dari: Ejournal.lipi.go.id
Sofyani, S. 2016. Kepentingan Australia di Celah Timor dan Pengaruhnya pada Hubungan Bilateral bersama Timor Leste. Skripsi : FISIP UNPAS
Suci, A. 2011. “151 Konspirasi Dunia Paling Gila dan Mencengangkan”