Nasib Presiden Pertama Negara Dunia Ketiga – DINI hari 30 Juni 1985, Haruo Remeliik, presiden pertama Palau, tiba di rumahnya berasal dari acara sosial. Begitu melangkahkan kaki keluar berasal dari mobil, dia mendengar nada senapan macet.

Nasib Presiden Pertama Negara Dunia Ketiga

nasib-presiden-pertama-negara-dunia-ketiga

Seseorang sudah menunggunya di sebuah pickup yang diparkir di jalan seberang rumah Remeliik. Orang tak dikenal itu mencoba menghabisi sang presiden tapi gagal.

Upaya pembunuhan Remeliik berkenaan erat bersama kompetisi politik dalam negeri dan kebijakannya membawa negerinya senantiasa gigih menampik nuklir. Sikap itu membuat Palau berseberangan bersama mantan “bapak asuh”-nya, Amerika Serikat (AS).

Konflik bermula saat Palau dan wilayah-wilayah lain di Mikronesia –yang ditetapkan PBB menjadi lokasi Trusteeship Territory bersama wali AS terhadap 1947– mulai berupaya pengakhiran status perwalian mereka. Pada 1967, Kongres Mikronesia menciptakan Joint Committee on Future Status dan menetapkan Lazarus Salii (kemudian menjadi presiden Palau kedua), senator lulusan University of Hawaii asal Palau, sebagai ketuanya. Tugas komite itu adalah melacak barangkali status alternatif untuk mengakhiri perwalian strategis.

Namun, AS lebih dambakan status quo. “Dalam negosiasi di Washington terhadap Mei 1970 AS mengusulkan wilayah-wilayah perwalian menjadi lokasi permanennya bersama status ‘Commonwealth’,” tulis Roy Smith dalam The Nuclear Free plus Independent Pacific Movement After Mururia. Delegasi Mikronesia pun segera menolaknya.

Keteguhan masing-masing pihak terhadap prinsip membuat negosiasi berlangsung alot dan capai puncaknya terhadap 1970-an. Di bawah payung Compact of Free Association (CFA), para bangsa di Mikronesia selanjutnya mengadakan referendum terhadap 1978 dan menghasilkan Federasi Mikronesia.

Namun, Palau terbagi antara yang membantu berhimpun bersama federasi dan yang dambakan berdiri sendiri. Di bawah Gubernur Airai Roman Tmetuchl, Palau selanjutnya memastikan keluar berasal dari federasi. Sebagai tindak lanjutnya, Palau mengadakan Konvensi Konstitusi, 28 Januari-2 April 1979, untuk merancang undang-undang dasarnya. Tak lama sehabis itu, Palau pun melangsungkan penentuan presiden pertamanya.

“Yang terlampau mengejutkan, kekuatan-kekuatan tidak serupa bersatu di lebih kurang satu kandidat, Haruo Remeliik, dan memilihnya sebagai presiden berasal dari Konvensi Konstitusi,” tulis Arnold Leibowitz dalam Embattled Island: Palau’s Struggle for Independence.

Kemenangan Remeliik, pria keturunan Jepang yang lahir terhadap 1 Juni 1933, tak hanya mengagetkan banyak orang tapi termasuk menyakitkan Tmetuchl. Banyak orang percaya Tmetuchl bakal menjadi presiden pertama Palau. Sementara, Remeliik merupakan figur low profile.

Kemenangan Remeliik yang low profile tak lepas berasal dari perlindungan Modekngei, gerakan keagamaan lokal yang keluar sehabis Perang Dunia I untuk menjaga agama-agama lokal berasal dari kepunahan akibat misi Katolik, yang dianut dua pertiga masyarakat Palau. Remeliik diakui sebagai figur paling pas ketimbang dua pesaing lain, Tmetuchl dan Lazarus Salii yang terlampau dekat bersama AS.

Remeliik bekerja dalam suasana yang sulit. Di dalam negeri, Remeliik perlu meredam kuatnya kompetisi politik. Ke luar, dia perlu merampungkan negosiasi bersama AS yang macet di bawah payung CFA.

“Struktur basic Compact adalah sederhana. AS bakal terima hak untuk mendirikan pangkalan militer, mengirim bahan nuklir, dan mencegah kebolehan asing terlibat dalam kesibukan militer apa pun. Sebagai gantinya, FAS bakal terima sejumlah besar uang, hak rakyatnya untuk memasuki AS dan bekerja, dan perlindungan militer,” tulis Leibowitz.

Nasib Presiden Pertama Negara Dunia Ketiga

CFA berseberangan bersama konstitusi Palau dalam tiga hal, yaitu batas lokasi Palau, pangkalan militer AS di Palau, dan pemakaian nuklir AS di Palau. Dalam perihal batas wilayah, Palau menganut rencana archipelagic sea theory dan territory sea theory, yang terlalu mungkin negeri itu punya laut sampai 200 mil berasal dari garis pantai terluarnya. CFA, mengacu terhadap kepentingan Washington, menampik kedua teori itu.

Namun, sengketa soal izin pangkalan militer dan pemakaian nuklir lebih pelik. AS maupun Palau sama-sama ngotot. AS terlampau dambakan keduanya, saat konstitusi Palau melarang kedua perihal itu. Akibatnya, negosiasi macet. AS tetap menekan Palau untuk merevisi konstitusinya, saat Palau berupaya keras untuk meraih kedaulatan penuh.

Namun, Remeliik tak dapat begitu saja menghentikan CFA. Selain mengikat secara legal karena sudah ditandatangani, berasal dari sisi ekonomi CFA tetap terlampau diperlukan Palau untuk membangun. Menurut Roy Smith dalam The Nuclear Free plus Independent Pacific Movement After Mururia, bersama di tandatangani CFA Palau bakal mendapat suntikan dana berasal dari AS sebesar 1 miliar dolar selama 50 tahun.

“Jumlah ini 10 kali lipat berasal dari dana tahunan di bawah Trusteeship. Efek ekonomi jangka panjang di bawah pendanaan Compact sebagai lawan Trusteeship terbuka untuk diperdebatkan,” tulis Smith.

Jumlah pendukung kerjasama di bawah CFA terlampau besar. Tmetuchl dan Salii yang paling populer. Keduanya merupakan lawan politik Remeliik.

Kendati posisinya sulit, Remiliik senantiasa berupaya membawa Palau capai kemerdekaan penuhnya dan menjaga prestis bersama berada di garis depan dalam kampanye anti-nuklir. Dalam kampanye anti-nuklir, Palau menjadi sekutu negara-negara Pasifik lain yang kebanyakan menentang nuklir dan Green Peace dan juga organisasi-organisasi lingkungan lain. Kampanye makin gencar sehabis Remiliik kembali mengalahkan Tmetuchl dalam penentuan presiden kedua, 1985.

Konsekuensi berasal dari cara yang diambil alih Remeliik adalah makin banyak musuh yang mengelilinginya. Pengawasan terhadap dirinya pun meningkat.

Pada saat Remeliik menghadiri acara sosial 29 Juni 1985, seorang penembak gelap sudah menanti di depan rumahnya. Begitu Rameliik tiba terhadap dini hari 30 Juni dan turun berasal dari mobil hendak masuk ke rumahnya, penembak itu menarik pelatuk senapananya untuk menghabisi Remeliik. Namun, dia gagal lantaran senapannya macet.

Remeliik mendengar mengetahui nada senapan macet itu. “Remeliik berlari untuk hadapi penyerangnya, berduel bersama pria bersenjata itu sebelum saat selanjutnya tiga peluru menghantam Remeliik di kepala dan leher, membunuhnya seketika,” tulis Michael Newton dalam Famous Assassination in World History: An Encyclopedia.

Kematian Remeliik menyisakan misteri berkenaan dalang, pelaku, dan motif pembunuhan sampai jauh hari. “Dua kerabat mantan rival politik Remeliik, Roman Tmetuchl, dan dua rekannya didakwa bersama pembunuhan selanjutnya tapi tidak dihukum karena bukti tidak memadai. Banyak rakyat Palau pro-Konstitusi percaya CIA yang membunuhnya. Pelaku yang sebenarnya, yang dihukum terhadap 1993 karena memerintahkan pembunuhan itu, adalah John Ngiraked, yang kepentingan bisnisnya digagalkan Remeliik,” tulis Roger C. Thompson dalam The Pacific Basin Since 1945: An International History.