Jejak Abadi RSJ Lawang Melintasi Zaman, Melayani yang Termarjinalkan – Musim hujan yang basah, hadirkan gerimis beku bercampur angin gunung yang dengan lembut meluncur penuh kedamaian memberi salam lembah Lawang yang begitu tenang. Di pada hawa yang sejuk, langkah-langkah kaki begitu tenang melintasi lorong-lorong bangunan bercat putih.

Jejak Abadi RSJ Lawang Melintasi Zaman, Melayani yang Termarjinalkan

 

Langkah-langkah penuh dorongan para tenaga medis, penuh kesabaran melindungi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang . Langkah-langkah yang konsisten bergerak menghadirkan jejak keabadian untuk melayani yang termarjinalkan.

Rumah sakit ini mempunyai peristiwa panjang dalam membangun nilai kemanusiaan, melalui karya di bidang kebugaran jiwa. Bahkan jauh sebelum saat republik ini diproklamasikan, rumah sakit jiwa ini telah melayani manusia-manusia di tanah nusantara, tanpa memandang berasal dari mana dia berasal.

Berdasarkan catatan peristiwa yang tersimpan di Museum Jiwa RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang , service rumah sakit jiwa ini di mulai kurang lebih tahun 1884. Di mana rumah sakit jiwa ini terasa proses pembangunan fisik, dan diresmikan pengoperasiannya terhadap 23 Juni 1902.

Jauh sebelumnya, kurang lebih tahun 1831, orang-orang Eropa yang berada di lokasi Nusantara, dan mengalami gangguan mental, dapat memperoleh perawatan di Rumah Sakit Militer di Jakarta, Semarang, dan Surabaya.

Sementara, jauh sebelum saat era Hindia Belanda, belum diperoleh catatan akurat mengenai perawatan terhadap penyandang angguan mental di Indonesia. Ada dugaan, terhadap era itu gangguan mental dianggap akibat perihal gaib dan ditangani sesuai perkiraan tersebut.